Mengenal Sahabat Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Riski Dini Hasanah yang Peduli Kebudayaan Tradisional

- 11 November 2022, 08:44 WIB
Penobatan Sahabat Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Riski Dini Hasanah oleh Kabid Kebudayaan Dinas Dikbud Provinsi Bengkulu, Adang Parlindungan
Penobatan Sahabat Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Riski Dini Hasanah oleh Kabid Kebudayaan Dinas Dikbud Provinsi Bengkulu, Adang Parlindungan /Ikobengkulu.com/Iman Kurniawan/

Perempuan kelahiran Bengkulu, 30 April 1991 ini juga pernah bekerja di Kantor Hukum di Jakarta dan sempat terjun ke dunia politik Barisan Relawan Jokowi Pusat, serta pernah dinobatkan sebagai satu-satunya wanita asal Bengkulu sebagai Srikandi Jokowi Bengkulu, karena dedikasinya sebagai relawan.

Baca Juga: Pelajar di Rejang Lebong Harus Berjuang Melewati Jalan Rusak untuk ke Sekolah

Hingga akhirnya perempuan yang akrab disapa Dini ini mulai terjun ke bidang budaya dan pariwisata. Dia tekut belajar dan melestarikan kebudayaan Provinsi Bengkulu, mulai dari kebudayaan, permainan tradisional, kesenian dan tarian tradisional Bengkulu.

"Dari situ saya akhirnya terjun langsung mementori para pemenang Duta Kebudayaan Provinsi Bengkulu yang sekarang di bawah naungan Lamode indonesia," imbuh Dini.

Alumni Tri Mandiri Sakti tahun 2013 ini mengaku, memiliki minat terhadap kebudayaan tradisional karena, kebudayaan sekarang mulai terperosok kemajuan teknologi, sehingga masyarakat lebih memilih hal-hal yang lebih simpel dan praktis, berbeda dengan cara-cara dengan apa yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat dalam adat-istiadat.

Baca Juga: Berikut Fakta Menarik Anggota DPRD yang Ditangkap Polisi

"Begitu juga dengan permainan anak sekarang, lebih banyak anak-anak main gadget ketimbang main permainan tradisional. Padahal permainan tradisional justru mengajarkan kita interaksi dan bersosialisasi terhadap sesama. Jadi saya termotivasi dengan melestarikan kebudayaan itu sendiri," ujar perempuan yang juga lulusan Hukum di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum, Darma Andigha Bogor tahun 2020 ini.

Cewek kelahiran Bengkulu, 30 April 1991 ini berharap kebudayaan tradisonal tidak hilang ditelah kemajuan zaman yang semakin moderen.

"Apalagi baru-baru ini viral berita 'Kebaya Merah' yang sangat melukai kami sebagai pelopor pelestarian kebudayaan. Karena kami saat ini sedang mengangkat kebaya agar menjadi trend setter kaula muda. Tapi justru muncul berita yang berkonotasi negatif," kesal Dini.***

Halaman:

Editor: Iman Kurniawan


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah